akan membebaskan umat manusia dari kerja rendahan membanting tulang dan
akan membuat binatang manusia menjadi makhluk bebas; ploretariat dengan
mengkhianati nalurinya, meremehkan misi sejarahnya, telah membiarkan dirinya
disesatkan oleh dogma kerja. Hukuman baginya pun keras dan kejam. Segala
kesengsaraan individual dan sosialnya terlahir dari hasratnya akan kerja.[]
Minggu, 16 Juni 2013
HAK UNTUK MALAS (halaman 10)
bakung di ladang, bagaimana bunga-bunga itu tumbuh; mereka tidak bekerja
keras, juga mereka tidak berputar: namun kukatakan pada kalian bahwa, bahkan
Solomon sekali pun dalam segala kebesarannya tidaklah tersusun bagus seperti
salah satu dari bunga-bunga ini." Jehovah, sang dewa yang berjenggot dan
pemarah, memberikan contoh utama kepada para penyembahnya tentang kemalasan
yang ideal; setelah bekerja selama enam hari, dia beristirahat untuk selamanya.
HAK UNTUK MALAS (halaman 9)
dan hati melompat mendengarkan si pengemis, yang berpakaian rapi dengan
baju yang compang-camping, merundingkan perihal kesetaraan dengan Duke of
Ossuna. Bagi orang Spanyol, yang di dalam dirinya naluri kebinatangan primitif
belum dihentikan pertumbuhannya, kerja merupakan bentuk perbuddakan yang paling
buruk[3]. Orang-orang Yunani di era kebesarannya memandang jijik terhadap
kerja: hanya budak-budak mereka yang diperbolehkan bekerja: oranga hanya
mengenal latihan/olahraga untuk tubuh dan pikiran. Maka di era inilah
orang-orang seperti Aristoteles, Phidias, Aristophanes, bergerak dan bernafas
di dalam masyarakat. Inilah masa ketika sejumlah kecil pahlawan di Marathon
melibas kelompok-kelompok besar Asia, yang segera akan ditundukkan oleh
Alexander. Para filsuf zaman kuno mengajarkan kemuakan terhadap kerja, bahwa ia
merupakan kemerosotan manusia bebas. Para penyair menyanyikan kebersantaian,
bahwa ia merupakan pemberian Dewa:
HAK UNTUK MALAS (halaman 8)
Kalau di Eropa kita yang beradab ini kita ingin menemukan jejak
kecantikan asli manusia, kita harus mencarinya di dalam bangsa-bangsa dimana
prasangka-prasangka ekonomi belum melepaskan orang dari kebencian terhadap
kerja. Spanyol, yang kini merosot, duh, mungkin masih menyombongkan diri karena
memiliki lebih sedikit pabrik daripada penjara dan barak yang kita punyai;
namun sang seniman kegirangan mengagumi kuda Andalusian yang gagah, coklat
seperti kuda-kuda pribuminya, lurus dan lentur seperti sebatang baja;
HAK UNTUK MALAS (halaman 7)
dengan teliti, dilayani oleh makhluk perawatnya yang berkaki dua, dengan
sosok kuda yang sangat kasar di pertanian Normandia yang membajak tanah ,
menarik kereta pengangkut pupuk, mengangkut hasil panen. Lihatlah kaum liar
yang mulia, yang belum digerogoti--oleh para misionaris perdagangan dan para
pedagang agama--dengan Kristianitas, sipilis dan dogma kerja. Lalu lihatlah
budak-budak mesin yang sengsara di masa sekarang.[2]
HAK UNTUK MALAS (halaman 6)
Kekuatan vital individu serta anak cucunya. Bukannya menentang
penyimpangan mental ini, para pendeta, ekonom dan kaum moralis justru
menuangkan pemujaan sakral terhadap kerja. Orang-orang yang buta dan terbatas,
mereka berharap untuk lebih bijak daripada Tuhan mereka sendiri; manusia yang
lemah dan hina, mereka mengira bisa merehabilitasi apa yang telah dikutuk oleh
Tuhan mereka. Saya, yang tidak mendeklarasikan diri sebagai seorang Kristen,
ekonom atau pun moralis, saya naik banding dari penghakiman Tuhan mereka; dari
pengajaran-pengajaran agama, ekonomi atau pun etika pemikiran bebas mereka, ke
konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan dari kerja dalam masyarakat kapitalis.
HAK UNTUK MALAS (halaman 5)
DOGMA YANG MEMBAWA PETAKA
"Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta
dan minum, kecuali untuk bermalas-malasan." -Lessing-
Suatu khayalan aneh merasuki kelas pekerja di bangsa-bangsa dimana
peradaban kapitalis mencengkramkan kekuasaannya. Khayalan ini selalu membawa
serta rangkaian kesengsaraan individual dan sosialnya yang selama dua abad
telah menganiaya umat manusia yang berduka. Khayalan ini adalah kecintaan
kepada kerja, hasrat mati-matian akan kerja, yang didesakkan bahkan sampai
habisnya
Jumat, 03 Februari 2012
HAK UNTUK MALAS
HAK UNTUK MALAS: KATA PENGANTAR DARI PENULIS
M. Thiers, dalam sebuah sesi tertutup pertemuan komisi pendidikan dasar pada tahun 1849, mengatakan: “Saya berharap untuk membuat pengaruh jajaran kependetaan menjadi sangat kuat, karena saya mengandalkannya untuk mempropagandakan bahwa filsafat yang baik adalah yang mengajarkan kepada manusia bahwa mereka hidup di dunia ini untuk menderita, bukan filsafat lainnya yang, sebaliknya menawarkan kepada manusia untuk bersenang-senang.” M. Thiers sedang menyatakan etika kelas kapitalis, yang egoism ganas dan kepicikan intelijensinya menjelma dalam dirinya.
Sabtu, 14 Januari 2012
Virgin Mary: Perawan Suci Maryam
17
"Aku tak mengerti. Kau tak mau bersuami? Tapi mengapa?"
Joachim tidak memerlukan waktu lama untuk mengetahui penolakan Mary. Di malam berhujan yang menjadikan Galilea sangat dingin dan sunyi, Barabbas mengungkapkan kepiluannya dengan hati bergolak.
Pada saat makan pagi, Joachim tak mampu membendung kemarahannya. Ia tak mungkin menunggu lebih lama lagi. Ia menunjuk Mary dengan sendok kayunya dan berujar, "Tidak! Aku tak mengerti pendirianmu yang satu ini. Apalagi Barabbas! Kalau memang tak suka padanya, katakan saja terus terang. Jangan berdalih tak mau menikah."
Sabtu, 17 Desember 2011
HAK UNTUK MALAS
BIOGRAFI PAUL LAFARGUE
Paul Lafargue (16 Juni 1842-26 November 1911) adalah seorang jurnalis sosialis Marxis revolusioner asal Pranscis, kritikus sastra, penulis dan aktivis politik. Dia menjadi menantu Karl Marx setelah dia menikah dengan putri kedua Marx, Laura. Karyanya yang paling popular adalah The Right to be Lazy. Lahir di Kuba dari orangtua asal Prancis dan Creole, Lafargue menghabiskan sebagian besar hidupnya di Prancis, dan juga pernah tinggal di Inggris dan Spanyol. Pada usia 69 tahun, dia dan Laura tewas dalam bunuh diri yang telah mereka rencanakan bersama.
Sabtu, 03 Desember 2011
HAK UNTUK MALAS
KATA PENGANTAR
Sebuah aktivitas pemenuhan kebutuhan manusia tidak seharusnya mendominasi dan memperbudak manusia. Kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal telah ada sejak dulu hingga sekarang. Dahulu manusia melakukannya dengan meramu dan mengumpulkan bahan-bahan kebutuhannya.
Aktivitas ini di zaman kita sekarang disebut kerja. Banyak teoritisi kontemporer, seperti Bob Black[1], mendefinisikan kerja sebagai “aktivitas produktif wajib yang dilakukan di bawah paksaan tuntutan ekonomi atau politik”. Lepas dari kenyataan bahwa ini memang bukan buku antropologi, materi ini tidak menjelaskan mengapa kerja merosot derajatnya menjadi seperti yang kita lihat sekarang. Hal ini sesungguhnya penting, karena untuk mengetahui makna kerja, mau tidak mau kita mesti membahas sejarah kerja. Dalam buku ini tidak juga dibahas apakah populasi manusia yang dahulu sangat kecil dan sumberdaya alam yang melimpah, yang memudahkan aktivitas pemenuhan kebutuhan, telah berperan menjauhkan kerja untuk berubah menjadi aktivitas yang penuh penderitaan. Sayangnya Lafargue juga tidak menyertakan pembahasan tentang konsekuensi-konsekuensi dari kondisi geografis, atau bahkan keberlangsungan populasi manusia itu sendiri, sedemikian rupa sehingga pertanian ataupun kerja-kerja yang lebih kompleks muncul.
Senin, 21 November 2011
Hak untuk Malas
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BIOGRAFI PENULIS
HAK UNTUK MALAS: KATA PENGANTAR DARI PENULIS
- DOGMA YANG MEMBAWA PETAKA
- PEMBERKATAN KERJA
- Hal. 13
- Hal. 14
- Hal. 15
- Hal. 16
- Hal. 17
- Hal. 18
- Hal. 19
- Hal. 20
- Hal. 21
- Hal. 22
- Hal. 23
- Hal. 24
- Hal. 25
- Hal. 26
- Hal. 27
- Hal. 28
- Hal. 29
- Hal. 30
- Hal. 31
- Hal. 32
- KONSEKUENSI DARI BERLEBIHAN PRODUKSI
- Hal. 33
- Hal. 34
- Hal. 35
- Hal. 36
- Hal. 37
- Hal. 38
- Hal. 39
- Hal. 40
- Hal. 41
- Hal. 42
- Hal. 43
- Hal. 44
- Hal. 45
- LAGU BARU UNTUK MUSIK BARU
HAK UNTUK MALAS
Penulis: Paul Lafargue
Penerjemah: Komunitas Merah-Hitam
Penerbit: Jalasutra
Kota Penerbit: Yogyakarta
Tanggal Terbit: Nopember 2008
Cetakan: I
ISBN: 602-8252-06-9
Langganan:
Postingan (Atom)
